Rabu, 01 November 2017

5 Ide Memaksimalkan Media Sosial Sebagai Mesin Pencari Uang

Teknologi komunikasi dan internet berkembang begitu cepat beberapa tahun belakangan ini dan setiap tahunnya terjadi pertumbuhan angka pengguna internet sepanjang tahun 2000 hingga 2015. Berdasarkan data yang berhasil dihimpun Internet Worlds Stats, dimuat di laman katadata.co.id (13.01.2016), disebutkan bahwa pengguna internet di wilayah Asia telah mencapai 1,62 miliar orang. Dari angkat tersebut pengguna terbanyak berasal dari Cina, yaitu berjumlah kurang lebih 674 juta jiwa.



Pada 27 September 2017, laman inet.detik.com merilis data dari laporan Tetra Pak Index yang menyebutkan bahwa pengguna internet di Indonesia telah mencapai angka kurang lebih 132 juta pengguna dan 106 juta orang di antaranya menggunakan media sosial secara aktif setiap bulan. Masih dari sumber yang sama disebutkan bahwa 85 persen di antaranya mengakses media sosial melalui ponsel. Perkembangan angka pengguna media sosial ini jelas masuk akal karena kebanyakan penggunanya merupakan generasi milenial yang menjadikan ponsel sebagai bagian dari keseharian mereka. Ada banyak sekali aktivitas yang mereka lakukan hanya dengan menggerakkan jempol di ponsel, mulai mengelola maupun berbelanja online, mengakses situs berita, atau berinteraksi memperluas networking di media sosial. Meski setiap hari mengakses media sosial, ternyata sebagian besar dari pengguna media sosial tersebut masih belum tahu cara memaksimalkan media sosial mereka sebagai mesin uang.

Lalu, bagaimana cara terbaik memaksimalkan media sosial sebagai mesin pencari uang?

5 Ide Memaksimalkan Media Sosial Sebagai Mesin Pencari Uang



Pada awalnya, mendapatkan penghasilan dari internet dianggap sebagai sesuatu yang baru dan masih banyak orang yang meragukan hal ini, terutama masih banyak terjadi kasus kejahatan di dunia internet. Namun dua tahun belakangan mulai terlihat adanya perkembangan pada sistem keamanan bertransaksi di dunia maya. Selain itu, secara kreatif banyak pula yang menemukan cara untuk mendapatkan uang hanya dengan memanfaatkan media sosial, mulai dari Facebook, Instagram, Twitter, G+, Youtube, bahkan melalui blog atau website.

Jika dulu penghasilan yang diharapkan dari internet hanya dari pemasangan iklan adsense, saat ini telah berkembang berbagai cara baru memaksimalkan media sosial sebagai mesin pencari uang. Memaksimalkan di sini tidak saja secara online, namun ternyata bisa pula dilakukan secara offline. Ada 5 ide yang bisa dicoba untuk memaksimalkan media sosial, antara lain:

1. Influencer

Influencer adalah pemilik media sosial yang memiliki cukup banyak audience dan bisa memberi pengaruh besar kepada para audience tersebut untuk mengikuti apa yang dilakukan atau disarankan di media sosialnya. Sebagai influencer, ada banyak sekali peluang memaksimalkan media sosial sebagai mesin pencari uang, misalnya menerima jasa mempromosikan suatu produk atau brand, atau bisa pula mengangkat isu berkaitan dengan peluncuran produk terbaru. Ada influencer yang hanya memanfaatkan instagram melalui pemasangan foto atau video dengan memasang harga tertentu, ada yang bekerja dengan memanfaatkan Twitter. Tetapi tidak menutup kemungkinan ada pula influencer yang memanfaatkan semua media sosial yang dimilikinya untuk mendapatkan lebih banyak uang. Pada intinya, setiap influencer memiliki ciri khas tersendiri dalam memberikan jasa yang disediakan, yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan brand.

2. Blogger

Blogger bekerja dengan memanfaatkan blog atau website. Para blogger ini ada yang murni mendapatkan uang hanya dari blog/websitenya saja, dengan cara menerima pemasangan iklan atau banner dari suatu perusahaan atau brand, membuat konten tulisan yang bertujuan untuk mempromosikan suatu produk atau jasa dengan bayaran tertentu, datang ke event dan melakukan liputan langsung dengan tujuan yang sama, tetapi dengan ketentuan dan harga yang berbeda. Setiap blogger memiliki standar harga yang berbeda antara satu dengan yang lainnya karena kualitas blog/website yang mereka kelola tentu saja berbeda-beda. Dibutuhkan kreativitas dan profesionalitas para blogger untuk menemukan peluang terbaik yang bisa mendatangkan lebih banyak uang ke kantong mereka.

3. Sistem Affiliate

Jika di dunia offline dikenal ada yang namanya perantara atau makelar, maka di dunia online dikenal pula istilah affiliate marketing. Makna dari kedua istilah tersebut kurang lebih sama, yaitu sebagai perantara antara penjual dan pembeli. Bedanya, affiliate di dunia online jelas mengandalkan koneksi internet dan tidak perlu bertatap muka secara langsung, baik dengan penjual maupun dengan pembeli. Pelaku affiliate hanya cukup mendaftar pada vendor produk atau merchant, mendapatkan ID Afiliasi, kemudian menggunakan identitas afiliasi tadi di media sosialnya, bisa di Facebook, Twitter, Instagram, atau yang lebih banyak dipasang di blog/website dalam bentuk konten yang berkaitan dengan produk atau jasa yang hendak dipromosikan. Keuntungan yang akan didapat dalam bentuk komisi. Jadi jika ada pembeli yang melakukan pembelian dari link afiliasi yang kita miliki maka komisi dari pembelian itulah yang nantinya akan kita dapatkan.

4. Penyedia Konten

Bekerja sebagai penyedia konten sedikit berbeda dengan 3 ide sebelumnya karena di sini yang dibutuhkan adalah kemampuan menulis konten dengan baik, cepat, dan sesuai brief atau ketentuan yang diberikan pengguna jasa. Meskipun di secara penuh menggunakan media sosial untuk bekerja, namun tetap memerlukan media sosial untuk memasarkan jasa sebagai penyedia konten. Tidak hanya perusahaan lho yang membutuhkan jasa penyedia konten, namun pemilik blog/website yang sibuk serta kurang memiliki waktu untuk menulis konten tentu saja membutuhkan jasa penyedia konten. Harga yang bisa diberikan berbeda-beda antara satu penyedia dengan penyedia lain, hal ini tergantung kualitas konten, profesionalitas, kemampuan menempati brief dan tenggat waktu, dan sebagainya. Hal utama yang harus dimiliki untuk menjadi penyedia konten adalah kemampuan menulis tadi, memiliki banyak sumber referensi, dan senang membaca.

5. Digital Agency

Di masa lalu, ada bidang usaha yang kita kenal dengan nama advertising agency, yaitu agensi yang memasarkan produk dan jasa suatu brand melalui pemasangan iklan di televisi, media cetak, banner, bahkan membuatkan konten promosinya. Dengan berkembangnya teknologi internet di masa kini maka bidang pekerjaan yang mempromosikan produk atau jasa di media cetak, televisi, dan banner, flyer, katalog tadi berubah haluan menjadi digital agensi, memanfaatkan kekuatan digital (media internet) untuk mempromosikan produk dan jasa dari suatu brand. Media digital yang digunakan di sini meliputi, media sosial, aplikasi, blog, website, dan sebagainya. Banyaknya pengguna media sosial saat ini jelas lebih efektif berpromosi di digital dibandingkan promosi secara offline. Oleh karena itu, ide bisnis yang satu ini memiliki peluang yang sangat menjanjikan untuk dikembangkan dan bisa memaksimalkan penggunaan media sosial sebagai mesin pencari uang.

Peralatan yang Perlu Disediakan

  • Laptop, komputer, gadget.
  • Media sosial.
  • Blog/website.
  • Keahlian di bidang IT.
  • Alat tulis-menulis.
  • Berbagai referensi.
  • Kartu nama.

Cara Memulai

  1. Buat blog atau website dan isi dengan konten sesuai dengan bidang yang ingin dijalankan, misalnya khusus untuk mempromosikan brand yang berhubungan dengan lifestyle (gaya hidup), mengulas segala sesuatu berkaitan dengan teknologi saja, wisata belanja, kuliner, dan lain sebagainya.
  2. Persiapkan pula media sosial dan bangun hubungan yang intens dengan audience atau follower. Semakin banyak memiliki audience akan semakin baik. Selain itu, usahakan selalu memposting konten positif di media sosial.
  3. Kembangkan jaringan di dunia digital, perluas pertemanan, bergabung dengan berbagai komunitas blogger, influencer, dan lain sebagainya yang berhubungan dengan bisnis ini. Semakin luas jaringan atau networking yang dimiliki akan semakin banyak peluang yang terbuka untuk membesarkan bisnis ini dan menjadikan media sosial sebagai mesin pencari uang.
  4. Asah terus kemampuan dan ikuti perkembangan teknologi internet, termasuk mempelajari aplikasi pendukung yang bisa digunakan untuk memaksimalkan media sosial sebagai mesin pencari uang. Sejalan dengan waktu memang akan ada masalah yang mungkin terjadi, tetapi kita bisa kok menemukan solusi untuk setiap masalah, contohnya ya kalau kita butuh uang tambahan maka solusinya adalah mencari pekerjaan sampingan, kalau kita sakit perut maka yang kita perlukan adalah solusi sakit maag
Modal yang Diperlukan

Namanya bisnis tetap memerlukan modal, seperti untuk membeli domain dan hosting bagi website, dana untuk membeli paket data internet, biaya operasional, membeli laptop dan gadget, juga biaya-biaya lain dalam proses pengembangan jaringan dan networking. Jika ditotal maka biaya yang dibutuhkan kurang lebih 10 juta rupiah. Dana ini akan menjadi lebih besar jika yang ingin kamu kembangkan adalah digital agency. Jika pada awalnya kamu belum memiliki dana sebesar ini, mulailah membangun brand-mu sendiri dari membuat blog gratisan seperti blogspot dan wordpress, sambil kamu belajar untuk membangun skill di bidang internet dan media sosial, serta memperluas networking. Sejalan dengan waktu, tetap persiapkan dana tadi untuk mulai membeli domain, hosting, serta melakukan pemasangan iklan agar produk atau jasamu bisa dikenal brand.

Punya Ide Keren yang Bisa Dikembangkan Jadi Bisnis Kreatif?

Kamu punya ide yang bisa dikembangkan menjadi bisnis yang bisa mendatangkan penghasilan dengan memanfaatkan media internet? Coba olah idemu tadi, kemudian tuliskan di blog atau websitemu. Minimal 300 kata. Setelahnya, ikutkan tulisan mengenai ide kerenmu tadi dalam kompetisi IWIC. Kompetisi ini diselenggarakan untuk memotivasi lebih banyak kalangan di Indonesia dari segala tingkat usia agar tercipta produk-produk digital dan startup, juga berbagai aplikasi baru, yang bisa menyelesaikan masalah sehari-hari, meningkatkan dan memperkaya kualitas hidup masyarakat secara luas, dan bisa bersaing dengan produk digital dunia global. Cari tahu lebih lengkap mengenai informasi IWIC ini dan daftarkan tulisanmu di laman yang telah ditentukan. 

Syarat dan Ketentuan Lain
  1. Peserta adalah Warga Negara Indonesia.
  2. Bebas menggunakan platform blog apa pun.
  3. Tulisan tidak boleh melanggar hak kekayaan intelektual pihak mana pun.
  4. Tulisan tidak boleh bermuatan politik dan SARA, atau memojokkkan individu/golongan tertentu, dan tidak melanggar hukum/ketentuan yang berlaku.
  5. Tidak mempromosikan produk/kegiatan lain.
  6. Konten blog atau website tidak mengandung unsur pornografi, judi, SARA, atau tindakan yang melanggar hukum.
  7. Usia blog atau website minimal 6 bulan.
  8. Membuat proposal berdasarkan tulisan ide menggunakan Google Slide.
  9. Submit artikel dalam bentuk link ke https://iwic.indosatooredoo.com/reg1.php
  10. Menyebarkan artikel yang telah dipublikasikan di media sosial yang dimiliki (Facebook, Twitter, Instagram) dan menyertakan hastag #IWIC11
  11. Like/follow media sosial IWIC: www.facebook.com/IndosatIWIC, www.twitter.com/isatooredooiwic, www.instagram.com/indosatooredooiwic
Periode Lomba:

24 Oktober – 15 November 2017

Tanggal Pengumuman Pemenang:

17 November 2017

Jumat, 29 Oktober 2010

Jeratan Gelora Api Cinta yang Membara

Yang senantiasa terngiang di benak kita

Kita pun terseret

Dalam kenikmatan semu yang dia janjikan

Kita pun terbuai

Dalam angan yang mengawang

Kita pun terlena

Dalam tipuan yang mematikan

Sampai akhirnya kita sadar…

Menyesal…

Meratapi…

Kekhilafan yang telah kita perbuat



Hanya untaian doa

Yang mampu kita panjatkan

Sebagai bentuk taubat kita kepada-Nya

Sebuah permohonan ampun kepada Yang Maha Pengampun

Selaksa permintaan maaf kepada Yang Maha Pemaaf

Semoga Dia mau membukakan pintu taubat-Nya

Semoga Dia mau mengampuni

Semoga Dia mau memaafkan

Kekhilafan dan kesalahan kita

Hanya itu yang kita pinta dari-Nya

Tiada yang lebih berharga

Selain ampunan-Nya

Tiada yang lebih mulia

Selain maghfirah-Nya

Semoga doa yang kita panjatkan

Mendapat perkenan-Nya

Menemui Ijabah-Nya

Menjumpai Qabul-Nya

Amiiin….

Kamis, 28 Oktober 2010

Catatan Yang Terserak

oleh Rani Tiyas Budiyanti

Rasa haru menyeruak menyesaki dada, ketika menatap lekat lelaki separuh baya di depanku..Tubuh yang semula tambun kini mulai mengurus dan mengeriput, kantung-kantung kelopak matanya pun semakin besar, menunjukkan kelelahan yang teramat sangat. Lelaki pendiam itu terus saja meneruskan kesibukannya, tak sadar bahwa aku mengamatinya dalam-dalam. Dengan sisa sedikit tenaga dan rasa kantuk yang terpaksa tertahan,Dia mempersembahkan pijatan cinta untuk istri tersayangnya.

Laki-laki itu telah yatim piatu sejak SMA, ibunya meninggal ketika melahirkan adiknya. Waktu itu dia masih berusia 3 tahun, sedangkan ayahnya meninggal ketika SMA. Mencangkul sawah, jualan, menjadi rutinitas pekerjaan yang dijalaninya. Namun kemiskinan bukanlah hambatan untuk tak bisa mengenyam pendidikan. Dengan beasiswa, akhirnya dia bisa menraih gelar sarjana. Air mata ini mulai tertahan di pelupuk, memaksa untuk menyembur keluar tanpa kecuali..Tapi aku masih bertahan.Terbayang kelelahan yang sangat, setelah membanting tulang seharian dan mengurusi pekerjaan rumah tangga, dia masih saja dengan setia meluangkan waktu untuk istrinya. Belum lagi jika harus menyetir ketika berpergian berjam-jam lamanya. DIa masih saja..Bertahan menunda waktu lapar dan lelahnya..dan lagi-lagi hanya untuk istrinya..

Aku teringat dialah orang yang paling protektif kepada ku, ketika teman laki-lakiku maen ke rumah. Dia adalah orang pertama yang menemui. Menanyakan darimana, ada keperluan apa, siapa, mirip seorang polisi yang menginterogasi tawanan habis-habisan. Ketika aku mulai beranjak dewasa, dan pergi ke Jogja untuk menimba ilmu. Dialah orang yang menyarankanku untuk berhijab, menutup aurat rapat-rapat, dengan 1 kata wanti-wanti..”Jangan mau diboncengkan oleh laki-laki yang bukan mukhrim mu sendiri” Dialah orang yang selalu menelfonku tiap minggu, menanyakan apakah aku pulang atau tidak ke kampung halaman. Melepas rajut-rajut kerinduan dan menggantikannya menjadi rasa kelegaan. Ada rasa bersalah dalam diriku ketika dengan terpaksa aku berkata “ tidak” karena banyak urusan perkuliahan atau karena akan maen dengan teman-teman..

Itulah ayahku..

Lelaki tegar yang selalu menyayangi keluarga. Setia dengan 1 istri walaupunn tak dapat memberikan banyak hal kepadanya. Dia mengajarkan aku akan arti mencintai dengan ketulusan, mencintai tanpa mengharap balasan, mencintai dengan sabar agar yang dicintai dapat menjadi yang lebih baik. Dialah ayahku, yang memberiku banyak inspirasi. Tak pernah ku dengar sepatah kata keluhanpun di bibirnya, Mengeluh kalau lelah, marah, bosan, ataupun sebagainya. Tetaplah bertahan ayah…Semoga surga di lapisan tertiunggi adalah balasan terhadap penderitaan dan kesabaranmu selama ini. Tetaplah bersemangat ayahku. Karena kamu adalah inspirasiku, semangat di saat aku mulai lunglai menghadapi pahit getirnya kehidupan. …..

Karena kau lah lelaki terhebat yang pernah aku temui selama aku hidup. 

Rabu, 27 Oktober 2010

Mencari Jati Diri yang Hakiki

oleh: Rani Tiyas Budiyanti

From :http://www.facebook.com/note.php?note_id=485169581041

Memandang dari ujung rambut hingga ujung kaki pada sesosok perempuan tua renta yang berbalut kebaya membuat keharuan ini mulai menyeruak. Tetes-tetes bening mulai berkumpul di pelupuk mata, melihatnya dengan tertatih-tatih menuang adonan serabi ke dalam mangkuk cetakan dari tanah liat. Lagi, untuk kedua kalinya aku mengunjunginya. Masih saja sama, sendiri, mata yang sayu, dan terbatuk-batuk melawan udara dingin. Kemana saudaranya yang dilahirkan dari rahim yang sama? Kemana anak-anaknya yang dikandungnya berbulan-bulan?Kemana sahabat-sahabatnya yang kadang selalu bicara tentang kebersamaan?Tapi itulah kenyataan. Dia sendiri. Dan dia menyadari. Di tengah gemerlapnya kota Jogja, dia duduk di pojok emperan toko setiap malamnya. Berjualan serabi hingga larut menjadi-jadi. Melihatnya membuatku berfikir bahwa manusia memang tercipta untuk sendiri. Kehidupan yang silih berganti menciptakan sebuah dinamika. Pertemanan, persahabatan, dan keluarga sejati apapun mereka tak akan selamanya menemani kita. Boleh jadi mereka adalah tempat berbagi kita sekarang ini, bergantung, dan bercita-cita. Tapi ketika kita mati, kita hanya sendiri. Tanpa teman, saudara, sahabat, suami atau istri mereka hanyalah pendamping di dunia. Tapi entah, nyatanya kehidupan memang lebih menguasai nurani. Kadang kita lebih malu dikatakan banci, tak gaul, tak menarik, tak tampan, tak cantik, tak sukses, hingga kita sering menuruti kemauan orang yang kita kasihi, sahabat, teman, dan keluarga. Hanya karena kita tak ingin disebut tak solid, tak friend, atau apalah sebutannya kita menjadi gila dunia. Yah, begitulah memang manusia pada dasarnya. Sering kita melihat semuanya pada sesuatu yang real, yang nyata. Sehingga timbul suatu paham rasionalisme, atheism yang tek mengakui adanya Tuhan. Karena mereka menganggap segala sesuatu yang ada di bumi ini bersumber pada materi.

Apa yang mereka lihat dan mereka alami. Dan paham-paham yang mereka utarakan juga tak lepas dari lingkungan, kebiasaan, dan kebudayaan. Bagi rakyat Palestina, berjihad melawan Israel mungkin sudah menjadi hal yang biasa, bahkan mungkin sudah menjadi tradisi. Tapi bagi kita rakyat Indonesia, yang selalu menyanyikan Indonesia damai sentosa. Mengangkat senjata tentunya menjadi hal yang luar biasa, bahkan mungkin kita lebih memilih bersembunyi di lumbung padi ketika koloni datang menghampiri. Bagi orang-orang berpunya adalah hal biasa jalan-jalan berkeliling kota dengan mobil mewahnya. Namun, bagi rakyat jelata, bermimpi seperti itu pun mereka enggan. Tak ingin menjadi pungguk katanya. Begitu pula dalam kehidupan beragama. Bersukurlah seseorang yang lahir dalam lingkungan pesantren, dalam keluarga yang agamis dan harmonis. Menghafal ayat-ayat suci, solat wajib sekaligus sunahnya, puasa, bahkan naek haji sudah menjadi hal yang biasa. Ibarat sebuah botol terisi penuh oleh susu adalah symbol kesempurnaan agamanya, dia telah memiliki setengah botol yang diisi oleh keluarganya. Berbeda dengan seseorang yang lahir dalam keluarga penjahat, broken home, dan mengesampingkan ajaran agama. Tentu membutuhkan tekad dan keberanian yang besar untuk mengubah kebiasaan yang telah ditanamkan orang tua kepada anak-anaknya. Alih-alih mengisi botol dengan susu, mereka malah mengisinya dengan anggur yang memabukkan. Benar-benar memerlukan keberanian untuk membuang anggur dan sedikit demi sedikit mengisi kembali botol dengan susu murni. Walau kadang semua itu tak mutlak. Banyak orang yang telah mempunyai setengah botol susu tetapi mereka malah mencampurnya dengan nila yang mereka buat sendiri. Dan tak jarang juga seseorang yang berasal dari keluarga berantakan malah bisa menjadi da’i jempolan.

Semua itu kembali, kembali kepada diri kita sendiri dan proses mendewasakan diri. Ketika kita mulai beranjak dewasa, tentu kita akan mengalaminya. Mencari cari sebuah kebenaran, kepastian, siapakah kita sebenarnya. Tak jarang kita melakukan kesalahan tapi itulah proses pendewasaan. Namun kita tak bisa mengelak, kunci dari segala kunci adalah Allah swt. Mengembalikan semua kepadaNya, karena Dialah kebenaran yang sejati. Bukan tradisi keluarga, bukan tradisi desa, dan bukan pula tradisi Negara. Karena itu semua adalah buatan manusia. Kebenaran sejati adalah Al Quran dan hadistNya. Bukan bearti kita menjadi mengabaikan peraturan-peraturan yang telah ada. Tetapi seharusnya kita lebih selektif menjalaninya. Karena sekarang ini, susah membedakan mana yang benar dan mana yang salah. Dengan berembel-embel demokrasi kadang kebenaran bukan lagi dinilai dari hati nurani, tetapi dari suara terbanyak dan kesepakatan. Kesepakatan membagi rata uang Negara yang tersisa, kesepakatan memanipulasi data, kesepakatan antar aparat-aparat Negara, dan entah kesepakatan lainnya. Kembali pada sebait cerita di awal catatan ini. Mengingat nantinya kita akan sendiri, itulah kenapa sebaiknya kita mencari jati diri dan menyandarkannya pada kebenaran hakiki. Bukan pada kebenaran menurut orang tua, keluarga, ataupun masyarakat sekeliling kita. Sekali lagi ini bukan berarti kita seharusnya tidak mendengarkan nasehat dan peraturan mereka. Tetapi seharusnya kita “selektif” mengikutinya. Ambil saja contohnya, ketika orang tua melarang anak perempuannya keluar malam-malam. Jika kita logika hal itu berbahaya bagi keselamatan, dan ditinjau dari agama, seorang wanita tak boleh berpergian sendirian tanpa muhrim, apalagi malam-malam. Kakek saya sering menasehatkan hal ini kepada saya. Beliau mengatakan bahwa jam 6 sore adalah batas seorang wanita keluar dari rumah. Awalnya saya pikir kakek saya kolot, tidak modern, ketinggalan jaman, dan sebagainya. Bahkan kadang saya memutar otak untuk bisa keluar malam jika kakek saya ada. Namun, sering saya berfikir dan membenarkan kata-kata kakek saya. Tapi masih saja terlalu susah menjalaninya, mengingat banyak acara baik kampus maupun pribadi terjadwal setelah maghrib terlewati. Rasanya susah menolak ajakan seorang teman untuk datang ke pesta ulang tahunnya ba’dha isya, karena takut dibilang kampungan jika mengetahui alasan yang sebenarnya. Yah, begitulah hidup. Selalu saja menyajikan berbagai pilihan. Dan selalu saja kita dituntut untuk memilih dengan penuh kegalauan dan dilema. Tetapi apapun pilihan kita sebaiknya kita mengembalikan pada Allah swt. Karena Dialah Sang Pencipta. Sutradara dari panggung sandiwara kehidupan dunia ini. Dialah yang menciptakan aturan, dan berhak memberikan ganjaran.Akan lebih indah jika kita mengikuti aturannya. Mengikuti apa yang Dia kehendaki. Mari mencari jati diri. Mengembalikan semua pada yang hakiki. Tak memandang dari latar belakang, dari kasta atau suku apa kita berasal. Semangat…

NB: Notes ini berdasar pada hati nurani penulis. Bukan berarti penulis telah merasa sempurna. Tetapi seperti yang penulis bilang, menerima sanjungan dunia sering terasa lebih indah daripada membayangkan nikmatnya surga. Penulis yakin, semua pembaca pasti memiliki hati nurani dan perenungan yang sama. Tapi semua kembali pada diri kita. Pepatah berkata. Kebenaran dan hati nurani terletak pada pikiran pertama, tetapi kebijaksanaan terletak pada pikiran serta keputusan terakhir. Di antara itulah setan masuk di alam fikiran kita. Tergantung kita menyikapinya. .Mari saling mengingatkan dan mendoakan, semoga kita bisa bersama dan istiqomah di jalanNya..Amin.Semoga catatan ini berguna.

NB lagi : Untuk seseorang, terimakasih telah membuatku merenung berhari-hari. Namun jika masih bisa memilih dahulu. Notes inilah pilihanku. Karena saat ini terlalu susah untuk mengosongkan kembali botol keimananku, dan memenuhinya dengan susu tanpa mengijinkan setitikpun nila mengotorinya =)



Selasa, 26 Oktober 2010

IVA "BUKAN" BIDADARI BERMATA BENING



♥♥♥♫•*¨*•.¸¸¸¸.•*¨*•♫♥♥♥ ♥♥♥♫•*¨*•.¸¸¸¸.•*¨*•♫♥♥♥

Degup hatiku bertambah kencang ketika sesampai dirumahnya, aku melihat keluarga Iva sudah berkumpul. Tak ada wajah cerah disana. Ibundanya langsung menghampiriku dan menarikku ke pojok ruangan.

Dan dari ibunya lah aku tahu semuanya. Dokter sudah menyerah. Jantungnya semakin melemah. Ternyata Iva sejak kecil mempunyai kelainan jantung. Dokter yang merawat bayi Iva itu meramalkan Iva hanya bisa bertahan sampai usia tiga tahun. Tetapi Allah berkehendak lain. Iva bertahan bahkan sampai usia 27 tahun.

Aku tercekat, apakah dia sekarat? Saat kutanyakan Ibundanya, beliau mengangguk pelan. Tak lama kemudian kakanya memberi isyarat menyuruh aku masuk ke dalam. Kakiku langsung lemas, pandanganku kabur. aku berdoa semoga tidak terjadi apa-apa . semoga ini hanya mimpi.

Iva terbaring pucat diranjang dan menatapku sayu. Tetapi dia tetap tersenyum. aku mendekat duduk di sebelahnya.Iva berusah duduk tapi kucegah. Namun dia bersikeras. Aku tak kuasa menolaknya. Kubantu dia duduk dan kusandarkan dia kedadaku. Aku memandangnya lama sekali dan kulihat nafasnya tersengal-sengal. Aku menangis, kami hanya saling pandang tanpa berkata-kata. Hatiku berdesir dan mengeluh . Mengapa?? Tiba-tiba tangan Iva sedikit terangkat dan menyentuh pipiku. Dengan ujung jarinya dia menghapus bulir air mata yang merayap turun di pipiku.

" Jangan menangis,Mas.. Iva tak apa-apa koq, cuma letih , Iva capek , ingin pulang dan istirahat."

" Kau benar tak apa-apa kan, Va?"

Dia menggeleng, "Iva tak apa-apa, aku akan baik-baik saja"

Ya Allah , bagaimana mungkin Iva baik-baik saja? Aku tetap membisu, terus berdzikir dan berdoa. Aku tahu semua akan terjadi hari ini. Aku bisa merasakannya, dadaku nyeri.

" Mas, kalo Va pergi , mas jangan sedih ya?" tiba-tiba Iva berucap sambil menggenggam jemariku

" Jangan menangis. Iva tak akan mati. Muslim yang baik takkan mati bukan? Iva hanya ingin pulang, semalam Va mimpi diantar seseorang ke rumah yang bersih dan kamarnya luas. Baunya Wangi, ada taman yang indah." Tiba-tiba dia batuk-batuk.

Lalu melanjutkan, " Orang-orang menghiburku, tetapi aku tak kan bertahan lama di dunia yang fana ini, tetapi aku tidaklah cemas. Kematian bukan akhir segalanya, kematian adalah jalan pulang kita kembali kepada Allah, yang setiap harinya kita ingat dan kita rindukan Ridha-NYA. Adakah tempat kembali yang lebih baik daripada Allah?"

"Jangan berkata lagi Iva, istirahatlah!' pintaku cemas ketika kulihat nafasnya semakin tersengal-sengal.

"Peluk aku Mas." Aku memeluknya dipangkuanku. Kurapikan rambutnya agar tak terjatuh tergerai menutupi keningnya.

Ya Allah, kenapa dia begitu dekat saat Iva sepertinya harus berpisah dariku? Kulihat wajahnya tiba-tiba terang dan cerah. Bibirnya tersenyum dan nafasnya tak lagi tersengal-sengal. Ia nampak tertidur dengan tenang. Kututupi tubuhnya dengan selimut. Aku menoleh kearah jendela, aku melihat sehelai daun dudur melambai dari sebuah pohon di Taman,, berayun pelan terus luruh ke bumi. Aku merasa jemari tangan Iva semakin dingin. Suara jam dinding yang berdetak terasa semakin keras terdengar. Selesai sudah perjalanan Iva , ia sudah memenuhi tugasnya sebagai hambaNYA.

Tetapi semua itu hanya kenangan , kenangan indah tentang senyum yang lembut, tentang amarah yang meluruskan sikap, tentang ucapoan-ucapan yang arif, tentang leganya saat tangis terpecah dipangkuan. Ia hanya seperti mimpi yang lenyap saat aku bangun.

Aku ingat perkataan guruku waktu itu, " akan ada lagi perpisahan yang menyakitkan". Aku semakin mengerti kenapa jauh hari guruku ngomong seperti itu, jika aku meratapi kepergian Iva, aku tertipu. Tak ada yang perlu diratapi, Allah lebih mencintai Iva daripada aku, oleh karena itu dia dipanggil lebih cepat. Nafsuku yang ingin memiliki Va menjadi pemberontak dan kecewa karena rasa itu hanya milik illusi. Nafsuku diam-diam menipuku kalau aku bisa membahagiakan Iva. Tapi perpisahan ini mengingatkan aku bahwa hanya Allah sajalah Pemilik Kebahagiaan. Allah Pemilik Segala Makhluk.

"Kau tak apa-apa?" Guruku menepuk bahuku.

aku menggeleng " Perpisahan ini begitu cepat, rasanya baru kematin aku merasakan kebahagiaan, tetapi kini terhapus sudah."

Dia kembali menepuk bahuku " Maut adalah sesuatu yang dinanti-nanti ahli dzikir , ia adalah gerbang menuju keabadian. Maut adalah seperti sahabat yang ditunggu-tunggu kedatangannya disetiap saat oleh para Pecinta Allah. Karena maut adalah pengantar sebaik-baiknya tempat peristirahatan. Kesedihan adalah karunia mujarab untuk kemajuan rohani kita. Kita akan terus mengalami perpisahan demi perpisahan, sampai pada akhirnya kita berpisah dengan raga kita. Nabi juga pernah mengalami duka, semenjak beliau bayi."

Aku menghela nafas dan kini aku mengerti begitu sulitnya untuk menjadi hamba Allah yang paripurna, betapa sulitnya menerapkan La ilaha illa Allah dalam kehidupan. Betapa mudahnya diucapkan. Tetapi kini aku mendapat tamparan keras denagn kematian Iva. Walau tahu hatiku rela, tatapi pikiran dan nafsuku tak pernah rela, mereka memberontak, membuat dada dan hatiku sesak dan pengap!

Setetes airmata menimpa hidungku. Lalu di susul dengan tetesan-tetesan kecil lainnya. Aku dan guruku segera pulang....

Senin, 25 Oktober 2010

Wanita Paruh Baya dengan Separuh Nyawa (True Story)

Aku merinding mendengarnya bercerita. Bahkan pohon-pohon di sekelilingku ikut mengangguk-angguk dengan seksama. Entah menyimak atau menahan kantuk, aku tak dapat menerka. Perempuan paruh baya di hadapanku itu enggan untuk berhenti. Seakan ada luapan beban di jiwanya yang ingin dia tumpahkan dengan segera.

Dia berumur 25 tahun ketika seorang laki-laki yang 5 tahun lebih muda meminangnya. Sungguh sebuah kebahagiaan yang tak terhingga. Sebuah janji suci terucap mengikat sepasang muda mudi yang memnuhi setengah bagian agamanya. Dunia riuh, langit tersenyum, mentari berbinar berebut mengucap selamat kepadanya.

Tepat 1 tahun setelahnya, seorang bayi mungil lahir dari rahimnya. Anak laki-laki yang begitu diimpikannya. Dia merasa hidupnya begitu sempurna. Sebagai ibu dan istri yang tak kurang suatu apa. Hari semakin berganti, rupanya kebahagiaan membuatnya alpa kepada sang Pencipta. Tak dihiraukan seruan Tuhan untuk segera menemuinya. Acuh, seakan tak butuh.

Tragedi dimulai ketika anak keduanya lahir. Entah mengapa Tuhan memberikan teguran kepadaNya. Anak keduanya mengidap suatu penyakit yang entah dokter sendiri belum mampu mendiagnosanya. Ketika berumur tiga bulan, sang anak keluar masuk rumah sakit hampir tiap minggu dengan keluhan yang berbeda- beda. Kadang muntah, kejang, panas lengkap semuanya. Dia mulai mengeluh. Di tambah lagi suaminya jadi jarang pulang. Uang semakin menipis dan suami jarang mengirimi. Pulang seminggu sekali hanya memberi jatah 100 ribu. Padahal dia sendiri tak bekerja.

Ketika mendapat uang jatah, dia memberikan kebutuhan rumah dan makanan untuk anak-anaknya. Sedangkan dia sendiri hanya sanggup menelan nasi bercampur garam. Tetangga sekitar menduga suaminya mungkin menikah lagi. Tapi dia tak percaya sebelum mendengar dari bibir suaminya. Kepercayaan terhadap suaminya melebihi segalanya. Di tambah lagi, ketika pulang, suaminya begitu mesra memanjakan dia dan anak-anaknya. Semua mimpi buruk kata orang pun dia hiraukan.

Siang terik, bercampur jelaga kehitaman di langit yang mulai mendung. Dia menatap nanar daun-daun di pelataran rumah sakit. Seakan mengajaknya bercerita dan berbagi suka duka. Anaknya keduanya sakit lagi dan seperti biasa suaminya ke luar kota. Tak sengaja seorang anak duduk di sampingnya, seperti menunggu seseorang sembari menggenggam mukena. Makhluk mungil itu sungguh bersahaja. Dari wajahnya tak nampak sedikitpun raut gelisah ataupun gundah..

Wanita itu terketuk, entah mengapa dia mengikuti langkah sang anak menuju mushola. Matanya mengalir melihat sang anak dengan khusyuk berdialog dengan Sang Pencipta. Untuk pertama kalinya akhirnya setelah 4 tahun lamanya, dia kembali menghadapNya. Memenuhi janj-janji nya untuk bertemu dengan Tuhannya 5 kali sehari. Bahkan tak jarang dia mengajak bertemu ketika malam tiba.

Di suatu malam. Satu setengah tahun setelah perisitiwa itu, dia sedang larut dalam lantunan doa yang dia persembahkan kepadaNya. Air matanya mebuncah, mengoyak ke segala arah. Diadukannya semua beban yang menggelayuti jiwa kepada Sang Maha Kuasa. Entah darimana, tiba-tiba dirinya tergerak untuk masuk ke kamar. Saat itu suaminya sedang pulang. Dia ambil celana suaminya yang tergantung di belakang pintu dan dia buka dompetnya.

Hatinya terkoyak. Jantungnya terasa berhenti memompakan darah ke seluruh tubuh. Nafasnya tertahan. Berulangkali disebutnya asma Tuhan. Sebuah surat nikah siri dia temukan di belakang fotonya dan anak-anaknya. Air matanya mengalir begitu deras, tetapi ajaibnya air matanya habis dalam waktu kurang dari 5 menit. Dia tak mampu menangis lagi.

Perceraian pun tak dapat terelakkan. Tepat di saat musibah itu datang, anak pertamanya terkena penyakit yang menyebabkannya tak bisa berjalan. Hatinya bimbang, berbagai usaha dia lakukan. Akhirnya dia putuskan untuk kembali ke rumah orang tuanya di kota kecil Jawa Tengah bagian utara.

Orang tua nya semula menerima dengan tangan terbuka. Siapapun orangnya tak akan bisa melihat anaknya hidup terlunta-lunta. Namun, semua itu hanya terjadi sementara. Anaknya yang sakit dan dirinya yang tak bekerja hanya dianggap parasit saja. Dia dihina, diremehkan, dianggap sebagai babu yang tak tahu malu oleh orang tuanya sendiri.

Kepahitannya tak habis sampai di situ. Anaknya yang kedua tak dapat berbicara, dan itu baru disadarinya setelah anaknya berumur 2 tahun. Panas, kejang, juga masih saja menjadi langganannya. Wanita itu limbung, tak tahu kemana dia harus melangkah.

Namun ternyata Tuhan memang tak akan memberikan cobaan melebihi kemampuan umatnya. Saudaranya yang tertua, kakak perempuannya. Bersedia membiayai pengobatan kedua anaknya. Dari mulai terapi hingga obat-obatan yang lainnya. Kakaknya juga memberinya modal untuk berusaha. Dan dengan modal yang tak seberapa itu akhirnya dia membuka toko kelontong di depan rumah.

Aku kadang menahan iba, melihat wanita itu memandikan kedua anaknya yang tak bisa berlaku seperti kebanyakan anak normal. Anak pertamanya sudah mampu berjalan, namun sepertinya mengalami suatu gangguan kejiwaan. Dia tumbuh menjadi anak yang hiperaktif, super nakal, dan sukar untuk berkonsentrasi. Dokter memvonisnya sebagai ADHD ( Attention Deficit Hyperactivity Disorder). Suatu keadaan di mana terjadi gangguan pemusatan perhatian, sikap yang hiperaktif, dan sering gelisah sehingga sukar baginya untuk menyelesaikan pekerjaan atau tugas sampai tuntas. Dua kali juga dia dinyatakan tak naik kelas. Anak keduanya sudah menunjukkan sedikit kemajuan. Dia dapat berbicara sepatah dua patah kata walaupun hanya memanggil “mama” dengan suara sengaunya.

Wanita itu tak patah semangat, dengan penghasilan dari toko kelontongnya dia sekolahkan anak-anaknya. Tak cukup memang, tetapi Tuhan tak membiarkannya sendirian. Banyak pihak yang menolongnya. Tawaran kerja dari sebuah perusahaan dia tolak karena dia tahu kedua anaknya butuh perawatan ekstra.

Banyak alasan untuk dia menyerah, meninggalkan anak-anaknya, mencari suami baru dan memulai kehidupan baru penuh mimpi. Tapi dia tetap melangkah walaupun terseok dan melemah. Dia yakin, biarpun gerimis menghujani hidupnya saat ini, akan ada pelangi jika dia mau bersabar menanti.

Wanita paruh baya dengan separuh nyawa, yang perlahan mulai digerogoti oleh paitnya kehidupan itu diam termangu. Dialah orang sukses di mataku. Bukan seorang pejabat, bukan seorang berpangkat, bukan pengusaha, bukan kaya raya, bukan pula wanita dengan kasih sayang di sekitarnya. Namun dia mampu berdiri dan melangkah menantang masa depan, di saat dia terpuruk dalam kubang penderitaan. Bagiku, itulah kesuksesan yang sejati.

From :http://www.facebook.com/note.php?note_id=485356191041

Hikayat Kotoran Sapi


Langit penuh. Ditumpahkannya pelan-pelan, gerimis dari perutnya yang buncit. Udara membeku, membuat sang surya enggan beranjak dari peraduannya. Aku suka pagi seperti ini. Bau sawah dengan wangi padi yang mulai menguning. Tak sabar rasanya melihat wajah gembira pemiliknya ketika masa panen tiba.

Aku menggeliat malas. Dingin membuatku menarik kembali selimut coklatku. Aih…tiba-tiba aku merasa ada yang menginjak kepalaku. Kudongakkan kepala, Tono anak manusia itu mengeluh gaduh. “ Sial..aku menginjak kotoran sapi,” Dia mulai mencaci dan mengata-ngataiku. Aku memandangnya sendu. Kuusap kepalaku yang sedikit botak karena sebagian rambutku menempel erat di kakinya.

Aku menerawang pilu. Mengapa banyak orang meremehkanku. Taukah kawan aku punya suatu rahasia, baiklah akan aku ceritakan kepadamu tentang diriku yang sebenarnya. Aku memang hanyalah berasal dari ilalang, temanku bekatul dan saudaraku air comberan. Kami berkolaborasi dan akhirnya sukses masuk ke dalam tubuh sapi. Kalau ingat bagaimana perlakuan sapi kepada kami, aku jadi tak ingin masuk ke tubuhnya lagi. Tubuhnya hangat memang, tapi kami ditendang ke sana kemari oleh ususnya. Banyak prajurit-prajurit mikroba dan enzim-enzim yang dikeluarkan sehingga kami menjadi hitam legam seperti ini. Dan lihatlah, badanku menjadi bau busuk karena fermentasi.

Awalnya aku menyesal akan takdirku. Tetapi Tuhan berkehendak lain. Aku malah disayang oleh majikankku. Dipakainya aku sebagai pupuk tanaman. Mereka yakin aku mempunyai sifat dermawan, sehingga jika dekat denganku tanaman-tanaman itu tak akan kurang makan. Kadangkala, ketika majikanku tak punya uang aku digadaikan ke pasar demi beberapa lembar uang ribuan.

Aku ikhlas. Malah senang. Lalu di suatu pagi ada seseorang peneliti dari kota memakaiku untuk menghidupkan kompor rumahnya. Awalnya aku tak yakin akan bisa, tapi setelah ku coba. Ternyata aku mampu. Hebat, ternyata Tuhan memberikan banyak mukjizat untukku. Sejak saat itu aku aku sering digunakan dan dikenal dengan sebutan Biogas.

Hari demi hari berlalau, sebuah lembaga di Jakarta mengubah biogasku menjadi inovasi yang lebih baru. Sumber listrik!! Aku dikenal sebagai bioelektrik. Bahkan aku juga sempat menggantikan solar jika dia mulai kelelahan. Senangnya bisa memberi penerangan di tengah gulita malam.

Dan tak habis sampai di situ kawan. Tahun 2009 ada sekelompok mahasiswa yang menggunakanku sebagai bahan pembuatan batu bata. Tambah lagi deh gelarku, EcoFaeBrick. Begitulah mereka menamaiku. Senang tak terkira hatiku, bahwa ternyata EcoFaeBrick 20% lebih ringan dan 20% lebih kuat dibanding batu bata dari tanah liat.

Aku bersyukur rasanya. Ternyata ada banyak hikmah dibalik hitamnya diriku. Busuk dan lembeknya badanku. Tuhan memang Maha Kuasa. Nah, kawanku manusia. Sekarang aku tanyakan kepadamu, bisa-bisanya engkau mencaciku. Sudahkah engkau bercermin? Apa yang bisa kau lakukan untuk orang lain? Seberapakah berharganya engkau di mata mereka? Jangan-jangan engkau kalah berharga dibanding diriku ini, seonggok kotoran sapi.

NB : Jangan memandang rendah dan remeh orang lain, hanya karena tak lebih pintar, tak lebih kaya, tak lebih beruntung, dan tak mempunyai pangkat sepertimu. Kadangkala di mata Tuhan, batubara yang legam terlihat lebih berkilau dibanding dengan permata yang mahal harganya.